PARADIGMA DAN TEKNIK INTEGRASI ILMU
Secara etimologis, integrasi
merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris –integrate; integration- yang
kemudian diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia menjadi integrasi yang berarti
menyatu-padukan; penggabungan atau penyatuan menjadi satu kesatuan yang utuh;
pemaduan. Jadi Integrasi berarti kesempurnaan atau keseluruhan, yaitu proses
penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda.
Ide pengintegrasian ilmu
dikembangkan pertama kali oleh Muhammad Natsir. Beliau melihat bahwa mereka
yang hanya mempelajari ilmu agama dan yang hanya mempelajari ilmu dunia
sama-sama jauh dari agamanya. Sebab didalam Al Qur’an surat Al Qashash ayat 77,
Allah memerintahkan kita agar hidup seimbang. Dengan demikian Integrasi adalah
keterpaduan antara nilai-nilai agama (dalam hal ini Islam), dengan ilmu
pengetahuan pada umumnya.
Awal kemunculan integrasi keilmuan
dilatar belakangi oleh adanya dualisme atau dikotomi keilmuan antara ilmu umum
disatu sisi dengan ilmu agama disisi lain, yang pada akhirnya melahirkan
dikotomik system pendidikan. Salah satu bentuk dari integrasi ilmu agama dengan
pendidikan adalah berdirinya banyak sekolah madrasah serta pesantren. Menurut
Norazmi Anas (2013) integrasi ilmu adalah penggabungan antara berbagai disiplin
ilmu, sehingga dengan menggabungkan berbagai ilmu tersebut tidak ada lagi
dikhotomi ilmu yang dikaji maupun yang dikuasai oleh oleh para sarjana Muslim.
Menurut Amin Abdullah, ilmu apapun
yang disusun tidak bisa tidak mempunyai paradigma kefilsafatan. Asumsi dasar
seorang ilmuan merupakan hal pokok yang terkait dengan struktur fundamental
yang melekat pada bangunan sebuah bangunan keilmuan, tanpa terkecuali, baik ilmu-ilmu
kealaman, ilmu-ilmu sosial, humaniora, ilmu-ilmu agama (‘Ulûm ad-Dîn), studi
agama (religious studies) maupun ilmu-ilmu keislaman. Dengan demikian, tidak
ada sebuah ilmu pun-lebih-lebih yang telah tersistimatisasikan sedemikian
rupa-yang tidak memiliki struktur fundamental yang dapat mengarahkan dan
menggerakkan kerangka kerja teoritik maupun praksis keilmuan serta membimbing
arah penelitian dan pengembangan lebih lanjut.
Konsep integrasi ini telah
menyatukan dikotomi antara agama dan sains yang terjadi pada masyarakat
sekarang ini. Adanya yang beranggapan bahwa kita hanya perlu mempelajari
ilmuilmu keislamanan tanpa ilmu-ilmu umum. Namun, antara ilmu agama dan ilmu
umum atau ilmu pengetahuan sangatlah berhubungan antara satu dengan yang lain.
Antara kedua disiplin ilmu itu tidak
dapat dipisahkan. Seorang ilmuan yang ingin mengembangkan keilmuannya harus
berlandaskan kepada nilai-nilai agama atau dihiasi oleh nilai-nilai agama
begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu gagasan integrasi interkonektif ini
sangat penting dan cocok dalam pengembangan disiplin ilmu pada saat sekarang
ini.
Komentar
Posting Komentar