Islam Berkemajuan dan Indonesia Berkemajuan

Pasca Islam Nusantara yang berwajah kultural, Islam Indonesia mengalami transformasi yang dinamis. Pada awal abad ke-20 seiring dengan bangkitnya kesadaran nasional secara lebih terorganisasi dan mulai tumbuhnya benih modernisasi, hadir proses baru dalam Islamisasi yaitu Islam berwajah pembaruan atau tajdid. Islam yang memberi sentuhan kemajuan atau kemoderenan itu diperankan oleh organisasi-organisasi pembaruan khususnya Muhammadiyah.

Dalam kehidupan kaum perempuan peran Aisyiyah selaku organisasi perempuan Muhammadiyah dalam memelopori bangkitnya perempuan Islam dan ikut membidani lahirnya Kongres Wanita Pertama tahun 1928 merupakan tonggak penting dalam memberi warna Islam yang berkemajuan.

Peran pembaruan atau Islam yang menyebarkan nilai-nilai kemajuan tersebut sangat penting dan menentukan perkembangan Islam mutakhir. Peran Islam modern sangat penting selain dalam menumbuhkan nasionalisme dan kedararan politik baru menentang penjajah dengan cara modern juga dalam memajukan umat dan bangsa pasca Indonesia merdeka (Deliar Noer, 1996). Tanpa gerakan pembaruan tidak mungkin lahir generasi muslim terpelajar yang kemudian tampil sebagai kelas menengah baru dan menjadi pilar lahirnya pranata-pranata sosial Islam yang maju.

Generasi muslim yang lahir dalam kultur Islam pembaruan ini bahkan di belakang hari memproduksi elit muslim di berbagai lembaga pemerintahan, yang membentuk genre baru Islam Indonesia yang memperkuat pilar pergerakan Islam di basis kemasyarakatan dan civil society. Tanpa kehadiran Islam berkemajuan atau Islam reformis-modernis tidak mungkin lahir wajah Islam Indonesia yang kosmopolit, urban, dan sanggup hidup di tengah modernitas tahap lanjut dan globalisasi yang membuana seperti kita saksikan hari ini.

Muhammadiyah melalui amal usahanya selalu termotivasi untuk memberi bukti kontribusi konkret bagi umat dan bangsa bahwa Muhammadiyah merupakan umat terbaik (khaira ummah). Sebagai khaira ummah, Muhammadiyah dituntut terus berpikiran maju, berdaya saing tinggi, dan berkeunggulan dalam berbagai bidang kebudayaan dan peradaban.

Dalam kehidupan kebangsaan, Muhammadiyah dan umat Islam sebagai golongan mayoritas punya tanggung jawab untuk menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Muhammadiyah mencita-citakan penduduk negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, sehingga selalu diberkahi oleh-Nya (QS al-A'raf [7]: 96); membangun negeri dengan sebaik-baiknya dan tidak berbuat kerusakan (QS al-Baqarah [2]: 11).

Harus diakui bahwa umat Islam Indonesia maupun dunia belum berkemajuan sejauh ini. Penyebab kemundurannya, menurut KH Ahmad Dahlan, karena sebagian besar umat Islam terlalu jauh meninggalkan ajaran Islam. Kemunduran umat Islam juga disebabkan kemerosotan akhlak, sehingga penuh ketakutan, seperti kambing dan tidak lagi punya keberanian seperti harimau.

"Karena itu," lanjut KH Ahmad Dahlan, "aku terus memperbanyak amal dan berjuang bersama anak-anakku sekalian untuk menegakkan akhlak dan moral yang sudah bengkok. Kusadari bahwa menegakkan akhlak dan moral serta berbagai persoalan Islam yang sudah bengkok memang tugas berat dan sulit.

Islam dan Indonesia berkemajuan itu ibarat dua sisi mata uang, bersifat simbiosis mutualistik. Tanpa kontribusi umat Islam, Indonesia mustahil berkemajuan. Sebaliknya, tanpa kehadiran "Indonesia merdeka", Islam Indonesia mustahil menjadi maju.

Sebagai bagian integral dari "keluarga besar bangsa Indonesia", Muhammadiyah berkewajiban mendedikasikan karya kemanusiaan dan peradaban (pendidikan, dakwah, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, penegakan hukum, ekonomi, dan lainnya) yang dinamis dan kreatif. Karena itu, warga Muhammadiyah harus berkompeten mendalami dan mengaktualisasikan Islam rahmatan lil 'alamin.

Komentar

Postingan Populer