Potret Kemiskinan Di Indonesia
Indonesia terkenal sebagai negeri yang kaya dengan
sumber alam dan beraneka-ragam tumbuh-tumbuhan, dan sebagian besar tanahnya
juga subur, bisa menghadapi kemiskinan yang demikian parah? Siapakah yang
salah, dan apanya sajakah yang salah? Atau, siapa yang harus bertanggungjawab
atas keadaan yang sudah membikin kesengsaraan puluhan juta, bahkan ratusan juta
penduduk ini? Dan lagi, mohon juga ikut difikirkan akibat yang menyedihkan bagi
generasi kita yang akan datang, kalau 27 persen dari anak-anak balita di
seluruh Indonesia menderia kurang gizi dan busung lapar. Karena, anak-anak
balita yang kurang gizi ini akan kurang normal pertumbuhannya, sehingga akan
merusak mutu generasi kita di kemudian hari.
Kemiskinan itu adalah akibat perbuatan manusia-manusia
juga, yang juga bisa dirubah atau dilawan bersama-sama. Sebab, walaupun banjir
sering melanda berbagai daerah, atau gempa menggoncang banyak tempat, atau
bahaya kekeringan menimpa banyak lahan, atau lumpur Lapindo sudah
menenggelamkan banyak rumah penduduk, namun penderitaan banyak orang bisa
ditanggulangi, dan kemiskinan bisa juga dikurangi, asal saja ada pengelolaan
negara yang beres. Negara dan pemerintahan ini adalah bikinan manusia. Negara
dan pemerintahan bisa baik, kalau dikelola oleh orang-orang yang baik dan
dengan sistem yang baik pula. Dan orang-orang beserta sistem inilah merupakan
unsur utama dari suatu kekuasaan politik.
Agar kemiskinan tidak sulit ditembus dan kesejahteraan
tidak lagi menjadi barang mewah, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah
pembenahan, yakni:
Pertama, hubungan kekuasaan jangan menghilangkan kemampuan
rakyat untuk memutuskan masalah yang menjadi perhatian mereka, akses komunikasi
demi terselenggaranya musyawarah untuk mufakat dibuka seluas-luasnya dan jangan
terbuai dengan study banding keluar daerah atau keluar negeri sehingga
persoalan sosial tidak terselesaikan.
Kedua, memberi peluang memperoleh alat-alat produksi
(lahan dan teknologi) dan sumber daya (pendidikan dan akses pasar) kepada
mayoritas rakyat; Ketiga, membentuk mekanisme yang memadai untuk akumulasi
pembangunan dan distribusi agar merata.
Keempat, melakukan integrasi ekonomi nasional, yang
berorientasi memenuhi pasar domestik daripada pasar asing.
Kelima, mendorong peningkatan peran pemerintah sebagai
perantara dalam meminimalkan ketimpangan sosial.
Keenam, membatasi eksploitasi terhadap sumber daya
alam secara berlebihan dan menanggulangi pencemaran ekosistem secara
proporsional sehingga tidak berdampak kepada orang miskin.
Ketujuh, menjauhkan kebijakan-kebijakan yang
menyebabkan monopolisasi ekonomi dan polarisasi rakyat, yang memacu
bertambahnya penumpukan pendapatan dan kesejahteraan bagi segelintir orang.
Komentar
Posting Komentar