Konversi Agama Karena Kemiskinan
Konversi agama (religious conversion) dapat di artikan sebagai istilah untuk berubah agama ataupun masuk agama. Menurut Thouless (1992), istilah konversi agama diberikan untuk proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan, proses itu bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba. Menurut kata “convertion” dalam bahasa Inggris berarti “masuk agama”. Sementara Max Heirich mendeskripsikan Konversi Agama adalah tindakan seseorang atau kelompok yang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan yang sebelumnya. Jadi yang dimaksud dengan konversi agama adalah perubahan pandangan seseorang atau sekelompok tentang agama yang dianutnya, atau perpindahan keyakinan dari agama yang dianutnya kepada agama yang lain.
Terdapat berbagai
faktor penyebab terjadinya konversi agama. Masing-masing bidang dari disiplin
ilmu menawarkan faktor-faktor terjadinya konversi, dan itu secara tidak
langsung akan terbiasa oleh lapangan kajian yang ditelitinya.Para ahli agama
melihat pengaruh supernatural yang dominan dalam proses terjadinya konversi
agama pada diri seseorang atau kelompok. Sesuai dengan pembahasan kali ini, salah
satu faktor terjadinya konversi agama adalah disebabkan oleh kemiskinan. Spesialis
ilmu kognitif agama dari Queen University Belfast, Thomas Swan, membuat daftar
beberapa alasan orang memutuskan pindah agama. Salah satunya adalah kemiskinan.
Miskin, membuat orang menjadi lebih religius. Mereka lebih sering berdoa karena
tekanan “takdir”, mencari rasa aman. Agama, menawarkan rasa tersebut. Oleh
sebab itu, orang akan lebih mudah menerima agama baru itu.
Sering di jumpai pada
masyarakat awam yang miskin terpengaruh untuk memeluk agama yang menjanjikan
dunia yang lebih baik tersebut, seperti kebutuhan sandang dan pangan yang
mendesak, faktor kemiskinan tersebut sangat relevan dengan hadis Nabi Muhammad
SAW : “Kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran”. Sebagian besar mereka
yang beralih ke agama Kristen misalnya berasal dari kelas menengah bawah yang
hidup di kota-kota besar, yang menikmati perolehan peningkatan ekonomi yang
terjadi secara lamban pada waktu itu. Tetapi orang-orang yang beralih agama
dijumpai pula dikalangan yang paling miskin; dan dalam perjalanan waktu
peningkatan yang terjadi dikalangan kelas atas. Kemudian peralihan agama yang
terbesar dijumpai di Timur, dimana lapisan sosial lebih tidak beragam dibanding
barat. Troeltsch menyatakan secara umum komunitas Kristen yang baru tersebut
adalah kelas menengah.
Untuk menanggulangi
kemiskinan dan timbulnya konversi agama, dari sudut pendekatan agama, kiranya perlu
dilakukan beberapa hal, yaitu:
- Institusi agama harus menjadi pusat pembelaan kaum lemah dan miskin
- Kebebasan kreatif
- Peningkatan solidaritas di sektor produktif
- Meningkatkan etos kerja
- Memperkuat iman keagamaan
Daftar Pustaka
Armini S, J. (2011).
Kemiskinan dan Konversi Agama (Studi Kasus Masyarakat Balangbuki Desa Tonasa
Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa) (Doctoral dissertation, Universitas Islam
Negeri Alauddin Makassar)
Webtografi
https://nashihin.wordpress.com/2013/06/20/konversi-agama/
a
Komentar
Posting Komentar